Rabu 15 Juli 2026 - 15:04
Setelah Syahidnya Pemimpin Revolusi Islam, "Bahasa Perlawanan" Menjadi Lebih Lantang dari Sebelumnya

Hawzah/ Seorang penulis asal Turki dalam sebuah catatan, dengan terinspirasi dari prosesi pemakaman massal Ayatullah Agung Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei, menyebut "Bahasa Perlawanan" sebagai rahasia keteguhan Iran dan pembentuk cakrawala peradaban baru.

Berita Hawzah  Menurut Islamic Analysis, Mücahit Gültekin dalam sebuah catatan berjudul "Iran Setelah Ayatullah Agung Syahid Sayyid Ali Khamenei; Tiada Warna Selain Hitam" mengkaji posisi wacana perlawanan, perkembangan Iran setelah syahadahnya Ayatullah Agung Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei, serta analisis terhadap landasan pemikiran dan budaya keteguhan bangsa Iran.

Catatan ini, dengan pandangan analitis, mengkaji konsep-konsep seperti perlawanan, keadilan, harga diri, syahadah, serta hubungannya dengan literatur yang lazim dalam hubungan internasional.

Berikut ini, teks lengkap catatan tersebut disampaikan kepada para pembaca yang terhormat:

Iran Setelah Ayatullah Syahid Sayid Ali Khamenei; "Tiada Warna Selain Hitam"

Upacara penyelenggaraan salat jenazah dan rangkaian prosesi syahadah Ayatullah Khamenei, Pemimpin Republik Islam Iran, digelar dengan dihadiri oleh jutaan orang.

Ketika jenazah Pemimpin Revolusi Islam dan anggota keluarganya, pada hari Senin 6 Juli 2026, dibawa ke Lapangan Azadi Teheran dan saya berada di tengah jutaan orang yang bergerak dalam iring-iringan, hal pertama yang saya sadari adalah: jalan-jalan itu, di dalam dirinya sendiri, mengandung janji akan sebuah perubahan global.

Transformasi ini melampaui makna duniawi tentang kehilangan dan perolehan, serta menghadirkan kepada umat manusia sebuah contoh nyata dari cara berpikir baru dan peradaban modern. Model ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan sebuah etika yang tidak mampu dipahami dan dicerna oleh mesin imperialisme.

Etika ini bertumpu pada persamaan yang menjamin kemenangan: keadilan melawan kezaliman, kejujuran melawan kebohongan, kesetiaan melawan pengkhianatan, rasionalitas melawan keserakahan akan kekuasaan, perlawanan melawan kepasrahan, keteguhan psikis melawan kekuatan material, serta kebenaran melawan kebatilan.

Yang membuat Iran tetap tegak bukanlah rudal balistik atau hipersonik. Bukan pula Pasukan Pengawal Revolusi Islam atau sistem pemerintahan. Yang membuat Iran tetap kokoh adalah tekad yang tidak pernah menunduk di hadapan para arogan dan penindas.

Pada hakikatnya, tekad itulah yang juga memproduksi rudal-rudal tersebut. Setiap analisis yang dilakukan tanpa memahami tekad ini akan menjadi analisis yang sia-sia dan tidak berguna.

Iran, di tengah dunia di mana semua orang berbicara dengan satu bahasa, berbicara dengan bahasa yang berbeda; bahasa yang mungkin tidak dapat dipahami oleh orang lain, tetapi di kedalaman fitrah manusia, ia sudah dikenal; bahasa yang tertutup oleh waktu dan terlupakan.

Bahasa ini mengatakan kepada kita bahwa kehidupan yang hina tidak lebih berharga daripada kematian yang mulia; bahkan, kematian yang mulia harus lebih diutamakan daripada kehidupan yang terhina. Bahasa ini juga mengingatkan bahwa pada akhirnya, darah akan mengalahkan pedang.

Dalam kosakata hubungan internasional dan ilmu politik, tidak ada padanan untuk bahasa ini. Inilah sebabnya mengapa Trump menuduh Iran dengan "kegilaan."

Ludwig Wittgenstein berkata: "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku." Menurut pandangannya, bahasa adalah struktur logis yang merepresentasikan realitas. Jika sesuatu tampak tidak bermakna bagi kita, itu karena hal tersebut berada di luar dunia yang mampu kita deskripsikan.

Tanpa keraguan, bahasa politik yang dikenal dengan sebutan "realisme" dibentuk oleh kekuatan-kekuatan yang dominan. Bahasa ini memperkenalkan sistem konseptual yang menjamin kepentingan kekuatan penguasa sebagai sesuatu yang "alamiah" dan "ilmiah."

Dari sudut pandang mereka, kekuatan adalah sesuatu yang terukur dan dapat dihitung. Kekuatan direpresentasikan dengan indikator-indikator ekonomi dan militer. Bahasa ini berbicara dengan konsep-konsep kunci seperti kepentingan, pencegahan (deterensi), keseimbangan, dan kapasitas.

Pertanyaan utama dari bahasa ini adalah: Seberapa besar kemampuan militer mereka? Bagaimana tingkat kekuatan ekonomi mereka? Tetapi bahasa perlawanan berbeda. Logika dan bahasa kekuatan-kekuatan dominan mengajukan pertanyaan seperti ini: "Mengapa mereka berperang meskipun mereka tahu akan kalah? Apakah masuk akal untuk menerima kerugian sebesar itu?"

Tetapi pertanyaan perlawanan adalah: "Apakah kita berada di pihak yang benar? Apakah penyerahan diri oleh pihak yang berada di pihak yang benar itu sah?"

Perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan hegemonik tidak hanya membutuhkan instrumen militer dan ekonomi atau kondisi geografis dan politis; melainkan juga membutuhkan konsep-konsep yang berbeda.

Konsep-konsep seperti syahadah, harga diri, keadilan, kesabaran, pengorbanan, dan martabat, tidak hanya membentuk motivasi perlawanan; tetapi juga menyediakan lahan bagi penemuan, perancangan, dan penggunaan alat-alat kreatif yang mengejutkan musuh.

Di tempat di mana sistem pertahanan udara tidak memadai, baik rantai manusia yang terbentuk di sekitar jembatan-jembatan dan pembangkit listrik, maupun kreativitas teknis untuk membidik pesawat-pesawat tempur F-35, semuanya bersumber dari bahasa perlawanan.

Perlawanan dimulai dengan protes terhadap cara kaum mustakbirin mendefinisikan dunia.

Kekuatan-kekuatan dominan terlebih dahulu mengajarkan kepada masyarakat yang mereka kuasai tentang "apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin." Pengajaran ini menanamkan keyakinan dalam pikiran bahwa perlawanan berarti "kematian."

Dari sudut pandang wacana ini, akhir dari perlawanan adalah kekalahan; sementara menyerah pada aturan kekuatan dominan didefinisikan sebagai "kemenangan."

Jelaslah bahwa pandangan ini bermakna bagi mereka yang berbicara dengan bahasa kekuatan-kekuatan dominan.

Kekuatan yang dalam waktu 13 hari telah menyerang 15 ribu sasaran di Iran, membunuh para pemimpin dan komandan negara ini, membombardir rumah sakit, sekolah, jembatan, pembangkit listrik, dan sumber air minum, di samping sanksi ekonomi dan blokade militer, menggunakan negara-negara di sekitar Iran sebagai landasan peluncuran rudal dan menara pengawas, serta menganggap dirinya memiliki hak istimewa untuk melanggar semua aturan kemanusiaan; di hadapan kekuatan seperti itu, menurut logika ini, Iran tidak punya pilihan selain menyerah.

Gabungkan kondisi ini dengan masalah-masalah regional dan ekonomi Iran untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang situasi ini.

Dalam kondisi seperti itu, bayangkanlah sekelompok masyarakat yang meneriakkan slogan: "Kami tidak ingin negosiasi, kami ingin balas dendam!"

Mereka, di dunia di mana jika bom nuklir pun dijatuhkan di atas kepala mereka, tidak ada yang akan memprotes, telah membangun dunia lain bagi diri mereka sendiri, dari mana slogan seperti itu muncul.

Dunia "kami berperang, kami mati, tetapi kami tidak menyerah"; dunia mereka yang tidak pernah melanggar janji mereka dan menunggu giliran mereka tiba. Dunia mereka yang oleh orang lain disebut "gila" dan "majnun" (orang yang dirasuki cinta gila); mereka yang tidak tunduk pada tekanan-tekanan dan nasihat-nasihat kompromistis.

Itulah mimpi buruk utama Amerika: mereka tidak ingin bahasa ini dipelajari.

Mereka tahu bahwa selama seorang budak berbicara dengan bahasa tuannya, dia tidak akan pernah menyadari belenggunya.

Persis itulah persoalan Iran: Iran menunjukkan bahwa berbicara dengan bahasa lain adalah mungkin.

Saat bergerak bersama jutaan orang, aku memandang manusia-manusia di dunia ini: wanita-wanita yang membawa bayi berusia satu bulan di sepanjang jalan; para lansia yang datang dengan kursi roda; anak-anak yang meneriakkan slogan; para pemuda yang membagikan air dan roti...

Kami bertanya kepada seorang warga Iran, jika Amerika kembali berperang, apa yang akan Anda lakukan?

Dia menjawab: "Kami telah menanggung kerugian terberat yang mungkin bisa kami tanggung; kami kehilangan pemimpin kami. Di sini ada sebuah peribahasa yang mengatakan: Tiada warna selain hitam!"

Orang yang sama, setelah mengatakan bahwa mereka telah melewati hari-hari yang sulit dan hari-hari yang lebih sulit lagi menanti Iran, melanjutkan:

"Pada akhirnya, kamilah yang akan menentukan aturan di kawasan ini; bukan Amerika dan bukan Tiongkok. Iran, bersama dengan negara-negara lain di kawasan, akan melakukan hal itu.

Bahkan dengan negara-negara tempat rudal-rudal ditembakkan ke arah kami, kami tidak bermusuhan. Kami berkomunikasi dengan mereka. Bahkan dengan Uni Emirat Arab pun kami berkomunikasi."

Iran tidak sekadar mengalami perang militer; tetapi juga memberikan pelajaran kepada dunia dan mengajak manusia ke sebuah maktab (sekolah pemikiran) yang biayanya telah dibayar lunas dan kredibilitasnya telah terbukti.

Iran menunjukkan bahwa perlawanan itu mungkin, sekalipun musuh sangat kuat.

Iran tidak hanya menunjukkan bagaimana cara bertahan; tetapi dengan spanduk-spanduk yang dipasang di seluruh Teheran, ia mengirimkan pesan ke seluruh dunia: "Kamu harus bangkit!"

Untuk melihat apa yang dilihat oleh perlawanan dan untuk memahami bahwa dunia lain itu mungkin, kamu harus bangkit.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha